Jurnal Tausiyah

Islamic studies

Penulis

  • Inayatullah Hasyim, LL.M Penulis

Abstrak

Gajah, Burung Ababil, dan Pesan Tauhid di Balik Sejarah Oleh: Inayatullah A. Hasyim   Pengantar

Sejarah kerap dianggap sebagai gudang kisah usang, padahal ia adalah lentera yang menerangi jalan hidup manusia. Salah satu peristiwa yang mengguncang Jazirah Arab dan terukir dalam wahyu Ilahi adalah kisah Tahun Gajah—sebuah peristiwa yang tidak hanya menggetarkan tatanan sosial-politik Makkah, tetapi juga menjadi bukti nyata campur tangan Allah dalam melindungi rumah suci-Nya. Surat pendek yang hanya lima ayat ini, QS Al-Fiil, menyimpan pelajaran mendalam tentang keagungan tauhid, kehinaan kesombongan, dan hukum alam yang tak pernah berubah. Mari kita renungkan bersama tafsirnya, menggali hikmah di balik setiap hurufnya, dan menghubungkannya dengan realitas kehidupan modern.

Latar Sejarah dan Sebab Turun Ayat

Kisah ini dimulai dari ambisi Abrahah al-Asyram, penguasa Yaman yang beragama Kristen dan tunduk kepada Najasyi (raja) Habasyah. Ia membangun gereja megah bernama al-Qullais di Shan’a, dengan niat memalingkan ibadah haji dari Ka’bah ke gereja tersebut. Namun, seorang laki-laki dari Bani Kinanah dengan sengaja mengotori gereja itu, sehingga Abrahah naik pitam dan bersumpah untuk meruntuhkan Ka’bah.²⁰ Ia pun bergerak bersama pasukan besar dan seekor gajah raksasa bernama Mahmud, menuju Makkah. Inilah yang menjadi asbāb an-nuzūl surat Al-Fiil, sebagaimana diriwayatkan oleh para ulama, termasuk al-Zamakhsyari dan al-Thabari.¹

Pada masa itu, Makkah berada di bawah pengaruh suku Quraisy yang memegang kendali penuh atas Ka'bah. Mereka menjalin hubungan dagang dan keagamaan dengan suku-suku di seluruh Jazirah.²¹ Ancaman Abrahah bukan sekadar serangan fisik, tetapi juga serangan terhadap identitas dan kemakmuran Quraisy. Di tengah ketegangan itulah, Abdul Muththalib, kakek Nabi Muhammad ﷺ, tampil sebagai pemimpin yang menunjukkan keteguhan iman. Ketika Abrahah merampas dua ratus untanya, Abdul Muththalib dengan berani menemui penguasa Yaman itu dan hanya meminta kembali hartanya. Abrahah tercengang: “Kau hanya meminta unta, sementara aku datang untuk menghancurkan rumah sucimu?” Dengan tenang, Abdul Muththalib menjawab, “Aku adalah pemilik unta, dan rumah ini juga memiliki Pemilik yang akan menjaganya.”² Jawaban ini bukanlah kepasrahan, melainkan pernyataan tauhid yang tegas: Allah-lah pelindung sejati Ka’bah.

Tafsir Ayat: Kekuatan dari Burung Ababil

Allah berfirman dalam QS Al-Fiil (105: 1–5):

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ (١) أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ (٢) وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ (٣) تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ (٤) فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ (٥)

Artinya: ”Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap pasukan bergajah? Bukankah Dia menjadikan tipu daya mereka itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung-burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu dari tanah yang terbakar (sijjil), lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).”

Al-Zamakhsyari dalam Al-Kasyaf menjelaskan bahwa kata أَبَابِيلَ (ababil) berarti kelompok-kelompok burung yang datang silih berganti dari berbagai penjuru.³ Ibnu Abbas meriwayatkan, burung-burung itu memiliki paruh seperti burung dan cakar seperti anjing, sementara Ibnu Mas’ud menafsirkan “ababil” sebagai “kelompok yang terpisah-pisah”.⁴ Perbedaan ini justru menunjukkan keajaiban ciptaan Allah yang melampaui akal. Burung-burung itu membawa batu kecil dari سِجِّيلٍ—menurut mayoritas ulama, kata ini berasal dari bahasa Persia sang-kil (batu dan tanah liat) atau berarti batu dari neraka yang keras dan membara.⁵ Batu sebesar biji kacang atau kacang adas itu, ketika dilemparkan, menembus tubuh pasukan Abrahah dan membunuh setiap orang yang kena.⁶

Fakhruddin ar-Razi dalam Mafatih al-Ghayb mengajukan pertanyaan kritis: mengapa Allah menghancurkan Abrahah yang hanya ingin merobohkan bangunan, sementara orang-orang Quraisy sendiri telah memenuhi Ka'bah dengan berhala selama bertahun-tahun?⁷ Ar-Razi menjawab bahwa merusak Ka'bah adalah pelanggaran terhadap hak publik dan mengancam eksistensi ibadah haji, sedangkan menyembah berhala adalah pelanggaran terhadap hak Allah—dalam hierarki syariat, kejahatan yang mengancam kemaslahatan umum lebih didahulukan penanganannya. Inilah hikmah di balik hukuman yang segera turun. Ar-Razi juga menekankan bahwa peristiwa ini berfungsi sebagai irhās (tanda awal kenabian) bagi Muhammad ﷺ, karena kelahiran beliau pada tahun yang sama bukanlah kebetulan, melainkan isyarat bahwa Ka'bah yang dilindungi akan menjadi pusat risalah terakhir. Burung-burung kecil yang mengalahkan gajah raksasa menjadi simbol bahwa kekuatan Ilahi selalu berada di pihak kebenaran.

Tafsir Ayat: Sijjil dan ‘Ashf Ma’kul

Kata سِجِّيل menarik perhatian banyak mufasir. Al-Thabari meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa “sijjil” adalah tanah liat yang dibakar seperti batu bata, atau batu yang berasal dari langit.⁸ Pendapat lain menyebut bahwa “sijjil” adalah nama untuk kitab catatan azab yang telah ditetapkan Allah.⁹ Yang jelas, batu-batu itu membawa nama setiap korban, sehingga tak seorang pun luput dari sasaran. Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa setelah tertimpa batu, kulit mereka bernanah dan muncullah penyakit cacar untuk pertama kalinya di Arab.¹⁰

Adapun frasa كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ (seperti daun yang dimakan), al-Zamakhsyari menjelaskan bahwa ‘ashf adalah dedaunan atau sekam yang telah kering, dimakan oleh binatang ternak lalu diinjak-injak.¹¹ Maka pasukan Abrahah menjadi seperti tanaman yang telah habis dimakan, hancur berkeping-keping, tak tersisa kecuali kehinaan. Al-Thabari menambahkan bahwa Abrahah sendiri mengalami penderitaan yang mengerikan—jari-jarinya rontok satu per satu, dan ia mati dalam keadaan yang amat menyedihkan.¹² Ini adalah balasan bagi mereka yang berlaku sombong di muka bumi.

Hikmah: Perlindungan Allah di Balik Sejarah

Peristiwa ini mengandung banyak pelajaran berharga. Pertama, kekuatan militer dan persenjataan canggih tidak ada artinya di hadapan kehendak Allah. Pasukan bergajah yang ditakuti seantero Jazirah dilumpuhkan oleh burung-burung kecil dan batu kerikil—ini mengingatkan kita pada QS Al-Hajj (22:40): وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ ”Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya.” Kedua, sejarah menunjukkan bahwa kesombongan berujung pada kehancuran. Abrahah menganggap dirinya mampu meruntuhkan rumah Allah, namun justru dirinyalah yang runtuh. Manusia modern yang mengagungkan teknologi dan kekuatan materi sering lupa bahwa ada Dzat Yang Maha Kuasa. Ketiga, kisah ini memberikan harapan bahwa Allah selalu memiliki cara-cara ajaib untuk melindungi orang-orang beriman dan memuliakan simbol-simbol agama-Nya, meskipun di mata manusia hal itu tampak mustahil.

Dari perspektif sirah, peristiwa Tahun Gajah juga memperkuat posisi Quraisy sebagai penjaga Ka’bah dan memberi mereka kepercayaan diri menghadapi ancaman luar. Namun, ironisnya, mereka tetap menyembah berhala di dalam rumah Allah—sebuah kontradiksi yang kelak akan dihapus oleh dakwah Nabi Muhammad ﷺ. Para orientalis seperti William Muir pun mengakui bahwa peristiwa ini membentuk kesadaran kolektif masyarakat Makkah tentang pertolongan Ilahi.¹⁴

Penutup

Rasulullah ﷺ bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh at-Tirmidzi:

مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْفِيلِ أَعْفَاهُ اللَّهُ أَيَّامَ حَيَاتِهِ مِنَ الْخَسْفِ وَالْمَسْخِ

Artinya: ”Barang siapa membaca surat Al-Fiil, Allah akan melindunginya seumur hidup dari ditenggelamkan dan diubah rupanya.”¹⁵

Namun, perlindungan sejati bukan sekadar bacaan, melainkan pengamalan makna—yaitu menegakkan tauhid dan menjauhi kesombongan. Marilah kita jadikan peristiwa bersejarah ini sebagai cermin, agar kita tidak pernah melupakan bahwa kekuasaan mutlak hanya milik Allah, dan kemenangan selalu bersama orang-orang yang bertakwa.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Catatan Kaki: 

¹ Al-Zamakhsyari, Al-Kasyaf, juz 4, hlm. 797; al-Thabari, Jami' al-Bayan, juz 24, hlm. 605. 

² Al-Zamakhsyari, op. cit., hlm. 798. 

³ Ibid., hlm. 799. 

⁴ Al-Thabari, op. cit., hlm. 606–607. 

⁵ Ibid., hlm. 608–609. 

⁶ Al-Razi, Mafatih al-Ghayb, juz 32, hlm. 292. 

⁷ Ibid., hlm. 289. 

⁸ Al-Thabari, op. cit., hlm. 608. 

⁹ Al-Zamakhsyari, op. cit., hlm. 799. 

¹⁰ Al-Thabari, op. cit., hlm. 609. 

¹¹ Al-Zamakhsyari, op. cit., hlm. 800. 

¹² Al-Thabari, op. cit., hlm. 614–615. 

¹³ Al-Razi, op. cit., hlm. 289–290. 

¹⁴ William Muir, The Life of Mahomet, Vol. I, hlm. 23–25, dikutip dalam M.M. Ali, Sirat al-Nabi, Vol. I B, hlm. 549–550. 

¹⁵ Hadits riwayat at-Tirmidzi, no. 2893.

Daftar Pustaka: 

- Al-Qur'an al-Karim. 

- Al-Zamakhsyari, Jarullah Mahmud bin Umar. Al-Kasyaf 'an Haqa'iq Ghawamid at-Tanzil. Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi, 1407 H. 

- Al-Thabari, Muhammad bin Jarir. Jami' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Tahqiq: Ahmad Muhammad Syakir. Beirut: Muassasah ar-Risalah, 2000. 

- Al-Razi, Fakhruddin. Mafatih al-Ghayb (at-Tafsir al-Kabir). Beirut: Dar al-Fikr, 1401 H. 

- Az-Zuhaili, Wahbah. Tafsir al-Munir fi al-Aqidah wa asy-Syari'ah wa al-Manhaj. Damaskus: Dar al-Fikr, 1991. 

- Ali, Muhammad Mohar. Sirat al-Nabi and the Orientalists, Vol. I B. Madinah: King Fahd Complex for the Printing of the Holy Qur'an, 1997.

Biografi Penulis

  • Inayatullah Hasyim, LL.M

    Test

Referensi

Catatan Kaki:

¹ Al-Zamakhsyari, Al-Kasyaf, juz 4, hlm. 797; al-Thabari, Jami' al-Bayan, juz 24, hlm. 605.

² Al-Zamakhsyari, op. cit., hlm. 798.

³ Ibid., hlm. 799.

⁴ Al-Thabari, op. cit., hlm. 606–607.

⁵ Ibid., hlm. 608–609.

⁶ Al-Razi, Mafatih al-Ghayb, juz 32, hlm. 292.

⁷ Ibid., hlm. 289.

⁸ Al-Thabari, op. cit., hlm. 608.

⁹ Al-Zamakhsyari, op. cit., hlm. 799.

¹⁰ Al-Thabari, op. cit., hlm. 609.

¹¹ Al-Zamakhsyari, op. cit., hlm. 800.

¹² Al-Thabari, op. cit., hlm. 614–615.

¹³ Al-Razi, op. cit., hlm. 289–290.

¹⁴ William Muir, The Life of Mahomet, Vol. I, hlm. 23–25, dikutip dalam M.M. Ali, Sirat al-Nabi, Vol. I B, hlm. 549–550.

¹⁵ Hadits riwayat at-Tirmidzi, no. 2893.

Daftar Pustaka:

- Al-Qur'an al-Karim.

- Al-Zamakhsyari, Jarullah Mahmud bin Umar. Al-Kasyaf 'an Haqa'iq Ghawamid at-Tanzil. Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi, 1407 H.

- Al-Thabari, Muhammad bin Jarir. Jami' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Tahqiq: Ahmad Muhammad Syakir. Beirut: Muassasah ar-Risalah, 2000.

- Al-Razi, Fakhruddin. Mafatih al-Ghayb (at-Tafsir al-Kabir). Beirut: Dar al-Fikr, 1401 H.

- Az-Zuhaili, Wahbah. Tafsir al-Munir fi al-Aqidah wa asy-Syari'ah wa al-Manhaj. Damaskus: Dar al-Fikr, 1991.

- Ali, Muhammad Mohar. Sirat al-Nabi and the Orientalists, Vol. I B. Madinah: King Fahd Complex for the Printing of the Holy Qur'an, 1997.

Diterbitkan

2026-08-01